Selasa, 29 Juni 2010

PEMBAHASAN TEORI EMPIRIS, MATAFISIS, DAN RELIGIUS Oleh: La Raman

Teori-teori yang berkembang ternyata tidak selamanya diteria, bahkan kadang-kadang ada sangkal-menyangkal antara teori yang satu dengan teori yang lain. Seperti dalam tulisan ini, akan mengungkapkan tiga buah teori besar yakni teori empiris, metafisis, dan religius.

a. Teori Empiris.

Teori empiris adalah teori yang menyangkal teori yang telah berkembang sebelumnya, yaitu teori rasionalis. Dalam teori ini empiris ini menjadi pokok pembicaraan adalah pengalaman. Berbeda dengan teori rasional yang hanya berupa berdasarkan kekuatan manusia dalam melakukan penyelidikan.

Pengalaman inderawilah yang menjadi penting dalam teori empiris ini. sperti yang telah diungkapkan oleh Franis Bacond yang mengungkapkan bahwa pengamatan, pemeriksaan, percobaan, pengaturan, dan penyusuna. Oleh Francis maka setiap hal pemikiran itu harus dilihat melalui lima proses tersebut. Para kaum empiris ini menyangkal pengetahuan yang berdasarkan intuisi atau pengetahuan bawaan. Mereka beranggapan bahwa semua pengenalan itu tidak terjadi secara kebetulan namun hars melalui perabaan melalui inderawi.

Sebagai contoh misalnya, seorang anak yang pandai dalam membuat beraneka macam benda itu tidak langsung bisa tanpa adanya pengalaman-pengalaman pengajaran yang pernah ia peroleh. Contoh yang lain misalnya seorang anak teknokrat tidak selamanya bisa menjadi seorang teknokrat seperti orang tuanya tanpa melakukan pengenalan dengan pengalaman-pengalaman. Menurut teori empiris pengalaman adalah kunci dari keberhasilan dan merupakan guru yang terbaik.

Setiap orang pasti mempunyai pengalaman baik pengalaman yang baik maupun yang buruk. Dengan melihat pengalaman-pengalaman ini diharapkan manusia akan menjadi lebih maju. Thomas Hobbes ahli empiris yang lain menyatakan pengalaman adalah permulaan dari segala pengenalan. Yang dimaksud oleh Hobbes disini adalah bahwa pengalaman itu menjadi hal yang pokok dalam sebuah pengenalan. Sebagai contoh misalnya ketika anak kecil bermain-main dengan pisau yang tajam, anak itu belum tahu bahwa pisau itu bis membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain. Baru ketika dia tergores atau tertusuk pisau tersebut, maka dia baru sadar bahwa pisau yang tajam itu berbahaya dan secara otomatis dia berkenalan dengan sesuatu benda yang dapat membahayakan keselamatan dirinya.

Filsafat yang lain mengatakan hal yang lebih ekstrim seperti yang diungkapkan oleh John Locke. Olehnya pengalaman adalah satu-satunya sumber dari segala pengenalan. John Locke tidak menganggap tidak ada sesuatupun hal yang lain yang menjadi umber pengenalan kecuali pengalaman itu sendiri.

George Berkeley yang dianggap sebgai bapak “idealisme pengamatan” menyatakan bahwa segala pengetahuan itu yang diperoleh oleh manusia didasarkan pada pengamatan. Berkeley disini ingin mengungkapkan bahwa pengamatan itu adalah juga termasuk sumber pengetahuan. Seperti dalam ilmu biologi dan anatomi. Denagan melakukan pengamatan terhadap penampang daun maka dapat diperoleh pengetahuan mengenai struktur penampang daun serta fungsi jaringannya. Dalam ilu astronomi misalnya dnagan melakukan pengamatan di alam jagad raya denagan menggunakan alat teleskop maka akan diperoleh pengetahuan mengenai jagad raya dan pada akhirnya mendorong kemunculan teori-teori baru yang berkenaan dengan jagad raya ini.

Kehidupan manusia pun disini apat dilihat dari teori empirisnya berkelaey ini. seseorang yang sebeumnya tidak tahu menahu soal kehidupan suatu masyarakat asing misalnya, maka dengan dengan melakukan penelitian itu atau pengamatan diperoleh semacam gambaran atau pengetahuan tentang suku asing tersebut.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah teori ini cocok dengan nilai-nilai sejarah? Tentu saja iya. Sebagai conth misalnya apa yang terjadi pada masa lalu itu adalah pengalaman untuk mas kini dan untuk maa yang akan datang. Pengalaman buruk yang terjadi pada masa lampau itu tentu saja akan dipikirkan masak-masak dan dicari penyebabnya sehingga pada masa sekarang atau yang akan datang akan terhindar ari peristiwa-peristiwa sebaliknya. Namun, sebaliknya pengalaman yang baik itu dapat dilanjutkan dan dikembangkan dari masa lampau ke msa kini atau masa yang akan datang.

Kesimpula dari teori empiris adalah melihat apakah sesuatu itu nyata atau empirik atau tidak. Sesuatu yang nyata atau tidak ini hanya dapat dilakukan melalui pengalaman dan pengamatan, karena kedua hal ini adalah sumber dari pengenalan.

b. Teori Metafisis.

Teori metafisis ini dinyatakan sesuatu yang terjadi itu karena adanya unsur-unsur lain diluar jangkauan manusia. Teori ini menyatakan pula bahwa Tuhan ada dibalik semua ini. dari teori metafisis inilah kemudian muncul yang dinamakan kepercayaan. Teori ini muncul ketika otoritas gereja masih kuat dan berjaya. Namun teori ini masih banyak kekurangannya dan masih blum tergali secara masak dan pada masa itu pecksivitas menjadi lebih luas.

Manusia menurut teori ini dianggap lemah dan sangat tergantung kepada kekuatan yang lebih itu. Akibatnya manusia hanya tergantung kepada nasib. Teori ini sesungguhnya akan membahayakan kehidupan manusia itu sendiri. Karena manusia seakan-akan tidak elakukan sesuatu hal yang embangun. Sehingga akibatnya tidak ada semacam kebangkitan dalam ilmu pengetahuan. Teori inilah yang menyebabkan Eropa mengalami jaman kelam atau kegelapan kegelapa selain adanya teori religius yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya.

c. Teori Religius.

Teori yang terakhir dalam pembahasan ini adalah teori religius. Dalam teori ini semua urusan dikembalikan kepada Tuhan dan semua hal yang terjadi itu dikembalikan kepada bible atau kitab suci yang lain. Mirip dengan konsep metafisis, jadi dalam teori ini Tuhan memiiki semacam otoritas yang tertinggi dibalik suatu fenomena. Konsep ketuhanan itu sangat tegas dalam teori ini. konsep takdir menjadi kunci pokok dalam teori ini. Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini kecuali adanya campur tangan Tuhan.

Dalam Agama Islam pun ada semacam kepercayaan yang menyatakan semua hal yang terjadi di dunia ini telah tercatat dalam sebuah Kitab Lauhul Makhfudz, dan semuanya tidak akan berubah kecuali dengan perijinan Tuhan. Sebagai contoh misalnya perang dunia I dan II terjadi kalau berdasarkan teori religius ini sudah merupakan kewenangan Tuhan dan kewenangan Tuhan tidak dapat diganggu gugat oleh sesiapa pun.

Konsepsi ini mulai muncul dan berkembang semenjak kmunduran Romawi di Eropa dan otoritas gereja menjadi pentingdi depan dan menjadi bahan rujukan dalam kehidupan pada masa itu. Pada masa itu dapat dikatakan agama menjadi hal yang paling pokok dan penting dan perkembangan ordo atau sekte agama Kristen mulai berkembang pada masa itu pula.

0 komentar:

Istriku


Agung 2014


Wael Historian

Search

Memuat...

Daftar Blog Saya

Total Tayangan Laman

Loading...

Agung

Agung

Pengikut

About Me

Foto Saya
WAEL HISTORIAN
Seorang anak maritim yang dilahirkan di Dusun Terpencil di Pulau Seram Propinsi Maluku.
Lihat profil lengkapku

About


Tab 1.1 Tab 1.2 Tab 1.3
Tab 2.1 Tab 2.2 Tab 2.3
Tab 3.1 Tab 3.2 Tab 3.3

Iklan


Iklan

Iklan

Blogger templates

Loading...
Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Entri Populer